Searah jalan dengan tempat penangkaran buaya, di daerah Tanjung Selamat berdiri sebuah gereja Katolik dengan arsitektur gaya India. Bagi mata awam, gereja itu tak ubahnya sebuah kuil Hindu, seperti yang banyak terdapat di India.

Selain dari arsitekturnya yang sangat indah dan unik, Gereja Santa Maria Annai Velangkanni itu juga menjadi tempat berziarah bagi umat Katolik. Boleh jadi karena ada beberapa keajaiban yang terjadi berkaitan dengan gereja tersebut. Contohnya, ketika rumah beserta isinya di Jalan Kediri 27, Medan, tempat penyimpanan sebagian dana pembangunan gereja, terbakar habis ternyata kitab suci berikut gepokan uang tidak ikut terbakar.

Beberapa hari setelah gereja yang dibangun sejak tahun 2001 itu diresmikan oleh Plt. Gubernur Sumatera Utara, Drs. Rudolf M. Pardede dan diberkati oleh Uskup Agung Medan, Mgr. AG Pius Batubara, OFM, keajaiban terjadi lagi. Keajaiban itu berupa munculnya mata air di bawah patung Bunda Maria yang berada di kapel.

Air itu oleh umat Katolik diyakini memiliki daya penyembuhan seperti halnya mata air di Lourdes (Perancis) dan Sendangsono (Jawa Tengah). Karena itu, banyak umat berziarah ke sana untuk berdoa dan memohon kesembuhan kepada Allah Sang Maha Penyembuh, melalui pertolongan Bunda Maria.

Gereja itu sendiri dibuat sebagai sebuah persembahan kepada Bunda Maria, yang pernah menampakkan diri di pesisir Velangkanni, Tamil Nadu, India pada abad 17, sehingga tempat itu dikenal sebagai Annai Velangkanni, yang berarti Bunda dari Velangkanni.

Keajaiban itu ternyata muncul pula di Medan, sehingga Gereja Santa Maria Annai Velangkani kini menjadi tempat peziarahan, yang pertama kalinya dibangun Keuskupan Agung di Indonesia.

Seluruh konsep pendirian gereja itu satu demi satu diinspirasikan dari hasil kontemplasi misteri inkarnasi seperti diajarkan dalam latihan rohani Santo Ignatius Loyola, pendiri orde Serikat Jesus. Pastor James Bharata Putra, SJ, yang melakukan kontemplasi panjang dan menjadi desainer gereja tersebut.

Namun, jangan dibayangkan bahwa di gereja itu peribadatan hanya dilakukan dalam bahasa Hindi-India. Selain bahasa Indonesia, misa juga dilaksanakan dalam bahasa Mandarin, dipimpin oleh pastor-pastor Serikat Jesus.

…………
Dari ceritanya, saya percaya dengan mata air yg mengalir itu sebagai salah satu bentuk mukjizat dari bunda Maria sebab dari sejarah mukjizat palsu yg saya pelajari, saya belum pernah menemukan mata air yang permanen muncul secara tiba2. Sepertinya kemampuan menciptakan mata air permanen secara tiba2 di sebuah gereja Katolik belum diberikan ijinnya oleh Sang Pencipta kepada si iblis. Masalah Keusukupan Medan mau approve atau tidak, itu tidak usah dipikirkan/khawatirkan karena mukjizat ini sifatnya alam dan tidak ada seseorang yang di kultuskan karena ini. Ajaran GK di tempat mata air itu berada tetap sama dan selalu mengacu pada ajaran Magisterium.